No_paul PUNK
| Add caption |
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Hari pertama, Jumat (26/8/2011), setelah dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Lembata, Kamis (25/8/2011), Eliaser Yentji Sunur dan Viktor Mado Watun, tidak langsung bekerja di kantor. Keduanya melakukan ritual adat “pembersihan” sekaligus meminta izin kepada leluhur sebelum menempati rumah jabatan bupati dan wakil bupati. Sebelumnya, selama 10 tahun kepemimpinan Ande Manuk, rumah jabatan bupati dan wakil tidak pernah dihuni.
Seperti disaksikan Pos Kupang, Jumat (26/8/2011), Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, bersama istrinya tiba di kantor bupati sekitar pukul 07.00 wita. Eliaser tidak masuk kantor tetapi menuju rumah jabatan (rujab) bupati yang selama 10 tahun terakhir tidak pernah dihuni. Sebelumnya rujab ini dialihfungsikan menjadi ruangan kerja Humas Setda Lembata dan ruangan lainnya sebagai tempat kerja Ande Manuk untuk melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai bupati.
Sekitar pukul 07.30 wita, Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun, bersama istri tiba di kantor itu menggunakan mobil dinas EB 6 F. Keduanya (bupati dan wakil bupati) sama-sama tidak masuk ruangan kerja masing-masing.
Ritual “pembersihan” rumah jabatan ini dilakukan dengan menyembelih seekor babi warna hitam di salah satu ruangan. Babi yang dipotong itu dibawa keliling rumah jabatan, kemudian darahnya dicampur dengan air kelapa muda lalu dipercikan kepada bupati dan wakil bupati.
Usai “pembersihan” rujab bupati, dilanjutkan ‘pembersihan’ rujab wakil bupati yang sudah lima tahun terakhir dibiarkan kosong di Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur.
Seremoni adat ini dihadiri sejumlah tokoh masyakarat Lembata, antara lain Lorens Hadung Boleng, Ansel Rewot, Muhammad Siong, Stanis Kapo Lelangwayan, Petrus Gute Betekeneng dan mantan Penjabat Bupati Lembata, Piter Boliona Keraf.
Dalam ritual pembersihan rujab itu, bupati dan wakil bupati diberi peneguhan oleh Petrus Gute Betekeneng bahwa sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lembata, Yentji dan Viktor harus mendiami rumah rakyat itu.
“Rumah ini dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Lembata namun selama 10 tahun tidak dihuni. Karena itu, bupati dan wakil bupati harus tinggal di rumah dinas bersama para leluhur Lewotanah untuk melayani semua masyarakat Lembata,” pesan Petrus Gute Betekeneng.
Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, mengatakan, rumah jabatan itu akan dihuninya bersama keluarganya. “Rumah ini akan saya tinggal, tapi bukan rumah saya sendiri, melainkan rumah kita bersama,” katanya.
Mengenai semangat Statemen 7 Maret 1954 oleh Petrus Gute Betekeneng, Bupati Sunur mengatakan, pihaknya menginginkan agar Lembata menjadi daerah otonom yang bebas dari kemiskinan, keterbelakangan dan perpecahan. “Otonomi Lembata sudah kita peroleh sejak tahun 1999.
Tinggal kesejahteraan rakyat yang perlu kita kejar demi Lewotana Lembata yang berkarakter dan punya daya saing,” tegasnya.
Menurut Piter Boliona Keraf, seremoni adat harus dimaknai sebagai “permintaan izin” kepada leluhur agar bupati dan wakil bupati dapat mendiami rumah jabatan guna memimpin Lembata.
“Bagi orang Lembata, rumah jabatan itu seperti rumah adat. Jadi, kita harus minta permisi sebelum masuk dan tinggal di rumah itu sekaligus meminta perlindungan dari leluhur agar bupati dan wakil bupati bersama keluarga yang tinggal di rumah itu selalu sehat dan mendapat kekuatan untuk memimpin Lembata,” jelas Boliona Keraf.
Seperti disaksikan Pos Kupang, Jumat (26/8/2011), Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, bersama istrinya tiba di kantor bupati sekitar pukul 07.00 wita. Eliaser tidak masuk kantor tetapi menuju rumah jabatan (rujab) bupati yang selama 10 tahun terakhir tidak pernah dihuni. Sebelumnya rujab ini dialihfungsikan menjadi ruangan kerja Humas Setda Lembata dan ruangan lainnya sebagai tempat kerja Ande Manuk untuk melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai bupati.
Sekitar pukul 07.30 wita, Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun, bersama istri tiba di kantor itu menggunakan mobil dinas EB 6 F. Keduanya (bupati dan wakil bupati) sama-sama tidak masuk ruangan kerja masing-masing.
Ritual “pembersihan” rumah jabatan ini dilakukan dengan menyembelih seekor babi warna hitam di salah satu ruangan. Babi yang dipotong itu dibawa keliling rumah jabatan, kemudian darahnya dicampur dengan air kelapa muda lalu dipercikan kepada bupati dan wakil bupati.
Usai “pembersihan” rujab bupati, dilanjutkan ‘pembersihan’ rujab wakil bupati yang sudah lima tahun terakhir dibiarkan kosong di Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur.
Seremoni adat ini dihadiri sejumlah tokoh masyakarat Lembata, antara lain Lorens Hadung Boleng, Ansel Rewot, Muhammad Siong, Stanis Kapo Lelangwayan, Petrus Gute Betekeneng dan mantan Penjabat Bupati Lembata, Piter Boliona Keraf.
Dalam ritual pembersihan rujab itu, bupati dan wakil bupati diberi peneguhan oleh Petrus Gute Betekeneng bahwa sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lembata, Yentji dan Viktor harus mendiami rumah rakyat itu.
“Rumah ini dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Lembata namun selama 10 tahun tidak dihuni. Karena itu, bupati dan wakil bupati harus tinggal di rumah dinas bersama para leluhur Lewotanah untuk melayani semua masyarakat Lembata,” pesan Petrus Gute Betekeneng.
Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, mengatakan, rumah jabatan itu akan dihuninya bersama keluarganya. “Rumah ini akan saya tinggal, tapi bukan rumah saya sendiri, melainkan rumah kita bersama,” katanya.
Mengenai semangat Statemen 7 Maret 1954 oleh Petrus Gute Betekeneng, Bupati Sunur mengatakan, pihaknya menginginkan agar Lembata menjadi daerah otonom yang bebas dari kemiskinan, keterbelakangan dan perpecahan. “Otonomi Lembata sudah kita peroleh sejak tahun 1999.
Tinggal kesejahteraan rakyat yang perlu kita kejar demi Lewotana Lembata yang berkarakter dan punya daya saing,” tegasnya.
Menurut Piter Boliona Keraf, seremoni adat harus dimaknai sebagai “permintaan izin” kepada leluhur agar bupati dan wakil bupati dapat mendiami rumah jabatan guna memimpin Lembata.
“Bagi orang Lembata, rumah jabatan itu seperti rumah adat. Jadi, kita harus minta permisi sebelum masuk dan tinggal di rumah itu sekaligus meminta perlindungan dari leluhur agar bupati dan wakil bupati bersama keluarga yang tinggal di rumah itu selalu sehat dan mendapat kekuatan untuk memimpin Lembata,” jelas Boliona Keraf.


0 komentar:
Posting Komentar