LinkList

Selasa, 06 Maret 2012

JIKA ALAM DIRUSAK, BAGAIMANA MUNGKIN MANUSIA MASUK SURGA? (Refleksi Masa Puasa 2012)

No_paul PUNK


Bumi tempat kita tinggal ini tidak nyaman lagi untuk dihuni. Saat musim kemarau datang, cuaca panas begitu tak tertahankan. Saat musim hujan tiba, erosi dan banjir menggedor-gedor istana lingkungan kenyamanan kita. Sinar matahari dan hujan sebagai sumber energi dan kehidupan tidak lagi datang untuk menumbuhkan kehidupan karena tidak diimbangi dengan usaha manusia untuk mengelolanya.

Tuhan menciptakan alam lingkungan satu dan baik adanya. Manusia dan ciptaan lain merupakan satu-kesatuan dalam persahabatan yang utuh dan saling bergantung. Akan tetapi, manusia menghancurkan kesatuan itu dan menciptakan sekat-sekat yang memisahkan. Manusia membangun tembok yang menegaskan superioritasnya. Dengan rasio, manusia mengklaim diri bukan sebagai penjaga, melainkan sebagai pusat dan penguasa jagat. Tubuh bumi ditelanjangkan dari kesuciannya.

Keserakahan manusia dewasa ini dilegitimasi oleh sistem kapitalisme yang mengglobal. Sistem yang terobsesi pada keuntungan ekonomis dan akumulasi modal ini mengakibatkan alam dieksploitasi. Hutan-hutan produktif di Kalimantan yang digerus untuk sektor bisnis perkebunan, atau lahan-lahan subur di NTT yang “disulap” untuk proyek pertambangan adalah contoh-contoh kecil keserakahan manusia yang menyembah dewa kapitalisme. Ketika ekonomi dianggap sebagai penopang untuk menyangga kemajuan, nilai alam direduksi ke nilai ekonomis. Ini sebuah pengerdilan luar biasa atas ciptaan alam.

Keprihatinan Para Pemimpin Gereja

Sesungguhnya, kerusakan lingkungan menjadi perhatian Gereja. Gereja tegas dalam komitmennya. Juga tegas dalam sikapnya. Pada tahun 2001, mendiang Paus Yohanes Paulus II menyatakan keprihatinannya bahwa manusia masa kini tidak lagi bertugas sebagai “penjaga” ciptaan. Jika kita perhatikan sejumlah wilayah di planet ini, lanjutnya, kita akan segera melihat bahwa manusia telah mengecewakan harapan Allah untuk menjaga ciptaan. Tanpa ragu-ragu manusia merusak hutan, mencemari air dan udara, menodai habitat kehidupan ciptaan lain, mengganggu sistem dan siklus atmosfer dan hidrogeologis, serta mengubah daerah yang kaya raya menjadi padang gurun yang tandus.

Kemudian, Paus Benediktus XVI dalam sesi tanya-jawab dengan Pastor Golser pada tahun 2007, mengatakan, "Bumi kita sedang merintih kesakitan. Kita dapat merasakan dan mendengarnya. Bumi ini telah letih oleh ketamakan, eksploitasi, dan manipulasi." Pernyataan Paus ini tentu punya alasan. Dalam buku berjudul Ten Commandments for the Environment: Pope Benedict XVI Speaks Out of Creation and Justice, diulas mengenai kondisi yang menunjukkan tingkat kerusakan alam bumi dewasa ini. Dikatakan, suhu bumi kita makin meningkat. Lapisan ozon menipis. Bencana alam makin sulit diatasi. Hutan tropis yang mengerudungi tubuh bumi, kini kian berkurang secara tajam. Hampir separuh tumbuh-tumbuhan, binatang, dan mikroorganisme akan punah atau benar-benar terancam sekitar seperempat abad ke depan karena kerusakan hutan. Para ahli memperkirakan banyak spesies tanaman, binatang, dan serangga punah setiap hari akibat kerusakan hutan tropis. Memasuki tahun 2032, diperkirakan lebih dari 90 persen bangsa kera akan menderita kehilangan habitat asalinya karena aktivitas pembangunan manusia, termasuk 99 persen spesies orang utan (Indiana: 2009, hlm 30-31).

Dengan tingkat kerusakan alam yang kian parah tersebut, apa yang dapat dan harus kita lakukan? Apakah kita harus mengikuti desakan Stephen Hawking, sang ahli fisika tersohor dunia itu, agar kita segera mengungsi ke planet lain sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan spesies manusia di galaksi ini karena bumi akan punah dalam ratusan tahun ke depan akibat egoisme dan keserakahan manusia yang merusak alam? Bisa jadi demikian.

Akan tetapi, hal berarti yang mencerminkan rasa tanggung jawab manusia atas tugas dari Allah adalah menyambung kembali kesatuan manusia dengan alam. Pengrusakan alam adalah sebuah pengkhianatan kepada Allah yang telah mempercayakan kepada kita untuk menjadi “penjaga” ciptaan-Nya.

Karena itu, inilah saatnya, pada Masa Puasa tahun 2012 ini, kita mengubah paradigma. Kita harus berani memutus rantai pandangan yang cenderung merusak dan menunjukkan sikap kita sebagai penjaga dan pemelihara ciptaan alam dan lingkungannya.

Menjaga Alam, Mengantisipasi Keselamatan Abadi

Manusia harus mengubah wajah alam yang kini rusak menjadi wajah “bumi yang baru” agar manusia menjadi “ciptaan baru”. Kedatangan Yesus ke dunia menegaskan hal ini. Yesus datang untuk menciptakan “bumi yang baru”. Bumi baru bukan dalam artian menghancurkan bumi yang lama, lalu menciptakan bumi yang baru, tetapi, seperti yang dikatakan Santo Paulus, melalui proses keselamatan kita terlibat bersama Allah dalam “menciptakan wajah bumi menjadi baru”, di mana kita dapat bersenang-senang di bawah mentari, di mana tidak ada lagi orang miskin, tidak ada lagi monopoli dan kekuasaan karena semua mendapat bagian secara adil.

Paus Benediktus XVI, seperti dikutip sebelumnya mengatakan bahwa tidak hanya ada ekologi alam, ada juga ekologi “manusia”, yang pada gilirannya menuntut ekologi “sosial”. Manusia harus memiliki kesadaran akan hubungan antara ekologi alam atau sikap hormat terhadap alam, dan ekologi manusia atau sikap hormat terhadap sesama manusia. Pengalaman menunjukkan bahwa sikap tidak peduli terhadap alam selalu merusak keselamatan dan kedamaian antara sesama manusia (2009: 81-82). 

Dengan demikian, eskatologi keselamatan bisa mewujud dalam kedamaian antara manusia dengan ciptaan dan kedamaian manusia dengan sesamanya. Keduanya mengandaikan kedamaian dengan Allah. Karena kehidupan merupakan “hakekat” keberadaan Allah, maka menjaga hubungan manusia dengan alam lingkungan merupakan awal keberadaan kita bersama Allah di surga.

byEdu Nanggungon Wednesday, March 7, 2012 at 10:49am ·
Oleh : Ambros Leonangung Edu




Waktu : Masa Puasa 2012

Powered By Blogger

Anak Ganteng Punk Foto

Anak Ganteng Punk Foto
x X x

my Acoouunntt

Open Panel

Blogroll