No_paul PUNK
Kamis, 5 Januari 2012 | 11:10 WITA
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA --- Sejak diumumkannya status siaga tiga terhadap Gunung (Ile) Lewotolok, Selasa (3/1/2012), sekitar 400 orang pengungsi menyerbu Kota Lewoleba, Rabu (4/1/2012). Diperkirakan jumlah pemgungsi terus meningkat beberapa hari ke depan.
Arus pengungsi secara spontanitas itu berasal dari empat desa yang terkena dampak langsung letusan di Kecamatan Ile Ape Timur, yakni Desa Jontona, Lamatokan, Lamawolo dan Lemau.
Sebagaimana dilaporkan Fince Bataona, warga Lembata yang juga mantan wartawan Pos Kupang, kemarin, di Lewoleba para pengungsi tak hanya menginap di Posko Aula Ankara tetapi menyebar di rumah-rumah keluarga dan terdata kurang lebih 41 rumah.
"Karena menyebar di rumah-rumah keluarga yang ada di Lewoleba, kami mengalami kesulitan mendrop bantuan beras. Bayangkan seharian ini saja belum semuanya terjangkau dari 41 rumah yang terdata. Kendaraan hanya satu dan harus keliling dari rumah ke rumah," ujar Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Lembata, Mikhael Tukan, yang ditemui di Aula Posko Ankara, kemarin.
Tukan mengakui karena kurangnya koordinasi penanganan pengungsi, tugas pendropingan bantuan cukup melelahkan petugas dan bukan tidak mungkin pengungsi lainnya tidak mendapat bantuan meskipun sudah melaporkan keberadaannya kepada petugas.
"Tidak hanya kami yang lelah tetapi masyarakat pengungsi juga yang susah. Mereka yang tinggal di keluarga juga tidak mendapat pelayanan memadai. Jika terkonsentrasi di tempat yang sudah disiapkan pemerintah, dinas kesehatan juga menyiapkan pelayanan kesehatan," ujar Tukan.
Soal makanan, Tukan mengakui ketersediaan beras cukup, tetapi kebutuhan lauk- pauk cukup sulit dipenuhi. "Tidak ada uang untuk beli ikan. Tadi makan siang dengan mie dan ikan sardin tetapi kalau makan terus dengan menu yang sama, orang bisa sakit perut," kata Tukan.
"Orang kampung tidak terbiasa makan sardin kaleng. Saya sudah tanya soal ini ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tetapi katanya kita bon saja dulu nanti pakai kwitansi dan diurus uangnya. Tetapi beli ikan mentah di pasar atau kayu bakar pakai bon dan kwitansi segala? Kalau berbelit begini dalam situasi seperti ini malah bikin susah orang," ujar Tukan.
Tukan merinci, hingga hari kedua, pihaknya sudah mendrop beras sebanyak 32 karung (50 kg) atau sebanyak 1600 kg dan 10 dos ikan sardin kaleng (satu dos berisi 72 kaleng) ke seluruh titik tempat pengungsian.
Soal kurangnya koordinasi dalam penangananan pengungsi, Asisten II Setda Lembata, Gabriel Bala Warat, yang dihubungi ke ponselnya mengaku sedang berada di Desa Watodiri, Ile Ape. Kata Gabriel, Humas Setda akan menjelaskan soal ini. "Saya ada di Watodiri tapi nanti Humas yang menjelaskan," ujar Gabriel.


0 komentar:
Posting Komentar