No_paul PUNK
Catatan: Artikel ini saya pernah bawakan dalam bentuk kuliah via
radio di Radio RRI Makassar, tanggal 18 Januari 2010, pukul 10.00-11.00.
Kuliah ini diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah IX Sulawesi.
Mengapa Boediono dan mantan presiden JK diperlakukan “beda” di kasus
panitia angket Century? JK dipanggil Bapak dan ada rasa hormat dengan
beliau, kalaupun ada yang panggil dengan sebutan daerah, pasti tidak
bermaksud menghina, walau aneh terdengar di telinga. Sedangkan wapres
kita kok sepertinya tidak dihargai? Dan sepertinya dicecar banyak sekali
pertanyaan dan rasa bahasa yang terbaca di TV, sepertinya Pak Boediono
“dibantai” oleh DPR. Begitu pula perlakuan terhadap Sri Mulyani dan
pejabat lainnya.
Pertanyaan ini saya tidak jawab secara politik, karena memang bukan
bidang saya. Saya hanya memfokuskan kepada wibawa. Refleksi kepemimpinan
yang muncul waktu melihat tayangan Pansus Century DPR adalah darimana
pemimpin mendapat wibawa? Banyak juga yang menyebutkan wibawa dengan
istilah lain seperti kharisma, pengaruh, dan otoritas.
Tentu, ada banyak definisi kepemimpinan, ada ratusan. Namun salah satu
definisi John Maxwell mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh
(leaderhsip is influence). Tetapi dari mana datang kekuatan untuk bisa
mempengaruhi orang lain? Banyak teori kepemimpinan mengkaji akan hal
ini. Saya hanya mengambil salah satu teori, di mana ada lima level
pemimpin mendapatkan wibawanya. Maxwell menyebut tentang adanya lima
level kepemimpinan (lihat Developing the Leader Within You)
Pertama, wibawa datang dari posisi yang diterimanya (leadership by
position). Posisi ini bisa berupa penempatan atau pemberian jabatan dari
pimpinan atau terpilih menjadi anggota Dewan, dan seterusnya. Posisi
ini juga didapat karena pendidikan yang diterimanya atau keahlian kerja
yang telah dimilikinya. Jadi posisi seseorang dapat membuat dia memiliki
wibawa. Namun ini baru wibawa awal, karena banyak juga bawahan dan
komunitas menentang posisi kita. Mereka tidak bersedia dipimpin kalau
tidak kompeten. Jadi wibawa karena posisi masih lemah atau lebih
tepatnya baru awal dari wibawa. Contohnya, perilaku anggota DPR
menunjukkan bahwa posisi Sri Mulyani dan posisi Boediono, serta berbagai
pejabat yang datang ke DPR tidak menakutkan mereka, bahkan kadangkala
berlaku, maaf, sangat tidak sopan.
Kedua, wibawa diperoleh karena bawahan atau pengikut dari satu
organisasi mau dipimpin atau memilih saudara sebagai pemimpin
(leadership by permission). Itu didapat lewat relasi yang baik antara
pemimpin dengan rekan-rekannya, karyawannya atau masyarakat yang
memilihnya bila dia anggota Dewan. Ketika pengikut merasa bahwa kita
adalah orang yang tepat di posisi itu dan mereka mau bekerja untuk kita,
maka itulah yang menghasilkan wibawa. Pada level ini pemimpin
diharapkan mengembangkan relasi dan kehumasan dengan baik. Bentuk
pecitraan diri juga baik, namun kemampuan berelasi jauh akan menambah
wibawa pemimpin. Namun ini masih belum cukup hanya karena bawahan mulai
menerima kepemimpinan.
Ketiga, wibawa akan meningkat karena ada hasil yang terlihat setelah
seseorang memegang posisi yang diberikan (leadership by production).
Misalnya kalau ditempatkan menjadi pimpinan dalam penjualan, maka hasil
penjualan meningkat, omset bertambah, mutu bertambah baik dan ada hasil
lainnya, maka wibawa akan meningkat. Umumnya pemimpin yang sukses
memimpin dengan menunjukkan hasilnya akan diundang ke berbagai acara
untuk menceritakan keberhasilannya, apalagi disertai dengan liputan
media yang besar. “People are driven by success”, begitu kata pepatah.
Jadi wibawa didapat ketika seseorang diakui keberhasilan dan
pencapaiannya.
Keempat, pemimpin mendapat wibawa dengan orang-orang yang
dikembangkannya (leadership by people developpment). Kepemimpinan itu
sejalan dengan waktu, dan wibawa akan terus bertambah jika pemimpin
berhasil mengembangkan orang lain di bawahnya untuk menjadi pemimpin
sesuai dengan bakatnya.
Kelima, wibawa pemimpin didapat karena pengembangan dirinya lewat
integritasnya (leadership by personhood). Sejalan dengan waktu maka
pemimpin harus terus memelihara karakternya, relasinya, dan
integritasnya. Pada awalnya mungkin semua prinsip etika dan moral masih
dalam bentuk pencarian, namun akhirnya semua itu akan nampak lewat
kepribadiannya sendiri yang otentik, bukan dalam bentuk slogan lagi. Dan
ini membuat orang memiliki kharismanya dan akan terus bersinar. Proses
ini adalah proses yang panjang dalam kehidupan pemimpin dan tidak
terjadi dalam waktu yang singkat. Robert Clinton menyebut sebagai proses
seumur hidup di dalam “university of life”.
Bila kita telah memahami lima level kepemimpinan ini, maka setiap kita
harus memberikan refleksi pribadi. Pertama, kita harus memaksimalkan
potensi yang ada pada kita sehingga menjadi kompetensi. Kedua, kita
harus memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama karena
kepemimpinan adalah relasi. Ketiga, kita harus memiliki karakter yang
baik, budi pekerti luhur dalam kata dan perbuatan.


0 komentar:
Posting Komentar