LinkList

Senin, 27 Juni 2011

Pengusaha dan Penguasa Lokal


Oleh FERDY HASIMAN Bandit demokrasi pada tingkat lokal tak terbendung. Demokrasi yang telah diperjuangkan dengan susah payah sejak reformasi 1998 dibajak politisi tak bertanggung jawab. Para politisi ituadalah gubernur dan bupati/wali kota. Mereka memanfaatkan otonomi daerah untuk menghidupkankembali neokolonialisme Soeharto melaluipemberian konsesipertam- bangan yang kebanyakan ilegal. Kementerian Energi dan Sumber DayaMineral mencatat,dari 8.475 izin usaha pertambangan (IUP)yang diterbitkanpemerintah daerah, hanya 3.971 IUP legal dan 4.504 IUP ilegal. Nusa Tenggara Timur hanya contoh dalam tulisanini. Seperti tersua pada dataDinas Pertam-banganNTT (2010),di sana319 pemegang IUP tak mengantongi dokumen resmi.Demi menambahpenerimaan daerah,ratusan hektartanah danarea hutanlindung disabotase hanya untuk investasi pertambangan mangan. Masalah sosial pun merebak. Buruh dibayar takwajar, terjadi rebutan lahan antarsuku, dan penambanganrakyat takterbendung. Kepincut oleh iming-iming nilai ”batu manganyang bisa berubah menjadirupiah”, warga beralih profesi dari petani penggarap menjadi pengumpul mangan. Pertanyaannya, mengapa tambang ilegal mekar? Desainotonomi daerah memang tak dipersiapkan secara matang. Reformasi birokrasi dan penegakan hukumdi daerahsangat rapuh.Kerapuhan regulasi digunakan para pemodal untuk mengakumulasi kekayaan. Memanglahpelaku ekonomipada dasarnya menampilkan watak asosial dan cari untung. Setelah pemberlakuanUU No 22/1999tentang OtonomiDaerah yangdiamandemen dengan UU No 32/2004,wewenang mengeluarkan izin pemberian kuasa pertambangan dan IUP beralih dari pemerintah pusat ke pemda. Peralihan inimemudahkan para pemodal domestik dan asing berinvestasi. Untuk mencari untung, parapemodal itubersahabat mesra dengan pemda. Persahabatan mereka tentu bersifat instrumental. Artinya, hanya sebagai alat dalam pencapaian kepentingan diri. Itulah yang menjawab teka-teki mengapa banyakpenjahat, seperti penambang ilegal, dibiarkan begitu saja oleh pemda. Selalu cari celah Pertambangan di NTT adalah contoh ulah para penjahat. Sebuah kapal milik TNI AD berisi 3.000 ton hasil penjualan mangan ilegal ditahan aparatur kepolisian di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya (Timor Expres, 15/5/2011). Penjahat memang selalu mencaricelah untukmencuri.Celah itu ada dalamUU No 4/2009 tentang PertambanganMineral danBatubara. Pasal43 Ayat(1) dan (2) memberi kesempatan kepada pemegangIUP eksplorasi menjual mineral yang sudah tergali meski ada penegasan bahwa tambanghasil eksplorasiyang dijual wajib dilaporkan kepada pemberi izin: gubernur, bupati, atau menteri. Persoalannya, pemerintahlokal ikutbermain didalamnya. Kepala Dinas Pertambangan NTT dijerat hukum lantaran terlibat kasus penjualan mangan ilegal (Kompas, 25/10/2010).Menangkal bajingansebenarnya mudah apabilanegara dengan seperangkat alatnya—hukum dan regulasi—selalu siaga.Namun, bagaimana menjaga penjahat jika aparatur negaraterlibat dalam penjualan mangan ilegal? Keterlibatan pemerintah lokal dalam penjualan tambang ilegal bukan tanpa alasan. Semua pihak paham bahwa demokrasi kita, mulai dari tingkatpusat hingga daerah, diselimuti politik uang. Ditengah sistempolitikyang memberhalakan uang, pemerintah perlu memberi karpet merah kepada investorhanya untuk mencalonkan diri lagi ke pilkada berikutnya. Ada garis paralel antara perusahaan (kapitalis me) dan politisi (partai politik) dalam demokrasi. Keduanya memerlukan kompetisi terbuka. Dalamkapitalisme, kompetisi antarperusahaan merebut konsumen plus akumulasi. Dalam demokrasi, kompetisi antarparpol merebut pemilih. Kompetisi seperti ini bagai hukum alam:siapa bermodalkuat akanmenang dalampertarungan.Konsekuensinya, parpolme reduksi rakyat menjadi semata-mata konsumen. Disposisi serba pasarini mengamputasilingkuppublik demokratis.Pilihan atas dasar pasar melemahkan pilihanpolitik karenapilihanindividu mendahului keputusan kolektif. Politisi akhirnya mengabaikankonsep ruangpubliksebagai tempatberdiskusi tentang pilihan-pilihan kolektif. Risikonya, tawaran elemen masyarakat mengajukan pembangunan alternatif (nirtambang) dengan pertimbanganekologis dan pelestarianbudaya lokaltak pernahdidengar olehpemda. Pemda diNTT, misalnya,menganggaptambang sebagaiharga mati untuk mengangkat kesejahteraan rakyat. Ironisnya, publik tidakpernah pahamberapa kapasitas produksi dan penjualan mangan setiap tahun. Jika saja publik paham informasi seputar pembukuanperusahaan, kalkulasi berapa royalti yang masukke kantongdaerah bisa dilakukan dengan tepat. Namun, semua informasi seputar tambang telah dikontrol investor dan pemerintah lokal. Realitas ini disebutoleh ekonom Joseph Stiglitz sebagaiasimetri kekuasaan.Artinya, kekuasaan lebihmemberi aksesmudah bagi pemodaldaripada rakyat untuk mengontrol sumber kekayaan daerah. Akibatnya, konsesi pertambanganyang bertujuan pembangunan jangka panjang hanya dimenangi penguasa ekonomi dan gagal mengangkat rakyat. Mengorbankan rakyat adalah wajah demokrasi kita yang diselimuti politik uang. Pemerintah bukan lagi abdi rakyat, melainkan berubah jadi bandit atau perpanjangan tangan pengusaha. Kesejahteraan rakyat terbengkalai. Otonomi daerah tak lagi bertujuan mendekatkanpemerintah pada kondisiriil warga, tetapi semakin menjauh dari kondisi riil warga lokal. Pilihan rasional Bagaimana menyelamatkan agenda otonomi daerah dari penjahat seperti itu? Kebijakan publik harus rasional.Rasional tidaknya kebijakan dilihat saat pemerintah menimbang aspirasi rakyat. Partisipasi rakyat dalam pembangunan pentinguntuk mencegah konflik kepentingan. Dalam konteks pertambangan, pemberian izin konsesi harus transparan.Rakyat perlupaham apa yang akan diproduksi, berapa banyak produksi,dan berapa yang masukke kantongdaerah. Ini mempermudah kontrol. Denganpilihan rasional,rakyat jugaberhak menolakinvestasi pertambangan. Pemerintah takbisa memukulratasemua daerah di Indonesia cocok untuk pertambangan. Maka, pemerintah perlu menyusun strategi pembangunan berdasarkan keunggulandan kelemahansetiap daerah. NTT,misalnya, hanya cocok untuk sektorpertanian danpariwisata. Potensi pariwisata di daerah ituamat besar.Angkat saja Taman NasionalKomodo dan DanauKelimutu. Investasipertambanganjustru merusakwisatayang instrumental meningkatkan devisa negaradan menyejahterakan rakyat. Tinggal sekarang bagaimanapemerintah lokal menarik minat investor dengan mengangkat daya saing melalui pembangunantransportasi, listrik, fasilitasair minum,dan prasarana fisik lain. FERDY HASIMAN Peneliti di Indonesia 

Kamis, 09 Juni 2011

dukung tambang!!!!

No_paul PUNK
http://www.facebook.com/home.php?sk=group_123887134336285&view=permalink&id=176920249032973


sedang terjadi konsolidasi kekuatan pro Tambang dalam Pilkada Lembata Putaran kedua......ada kekuatan politk yang sedang mendorong ketua DPRD Lembata agar RTRW segera disahkan namun permintaan itu ditolak. ini bagian dari kecewa politik karena tidak dipilih rakyat di kawasan calon lokasi tambang Lembata......
01 Juni jam 21:17 ·  ·  · 

  • Eropaun Jgc menyukai ini.

    • Paulus Peu Eja Piter W:Bisa di jelaskan maksudnya, Apakah kekuatan Pro tambang lagi melakukan konsolidasi utk ikut meramaikan "burssa efek" di Pilkada Lembata ko? Muatan RTRW tu seperti apa yg ada hubungannya dengan tambang.? Tks eja.
      01 Juni jam 21:51 ·  ·  1 orang

    • Edy Bau Mandeu mungkin saja dalam RTRW itu sudah tergambar akan ada wilayah kaplingan untuk tambang...kalau sudah tergambar jelas, siapa pun pasti tergiur untuk menjual rakyatnya atas nama kemakmuran......
      01 Juni jam 22:32 ·  ·  1 orang

    • Steni Loeuweheq tepat sekali EBM.....
      01 Juni jam 22:34 ·  ·  1 orang

    • Non Betty Lomblen ini yang namanya isu. kalau berani, sebut saja nama orangnya, ayo kalau berani biar jelas. kalau tidak berani saya tidak percaya.
      02 Juni jam 15:06 ·  ·  1 orang

    • Suara Perubahan Tolak Tambang...Pilih Herman Wutun..Bupati Lembata
      03 Juni jam 13:21 · 

    • Jack Sawaldano 
      PW: tambang persoalan kompleks ... jangan mengkerdilkan penentuan bupati lembata dg isue ini. kalo bisa dg hal2 yang lebih berbobot untuk kemakmuran rakyat dan dimulai dari potensi2 yg sdh terlihat dan ada dimasyarkat. kasihan orang lembata...Lihat Selengkapnya

      06 Juni jam 6:54 ·  ·  2 orang

    • Non Betty Lomblen Bagaimana mungkin orang bisa tolak tambang terus kalau pemimpin tolak tambang masuk di partainya pengusaha tambang??? oh...menyedihkan.
      Selasa pukul 18:47 ·  ·  1 orang

    • Broin Tolok ‎@ NBL...awas oh..non
      Selasa pukul 19:07 · 

    • Pius Klobor 
      Non Bety;....Anda juga hrs melihat. Selama ini siapa yang getol mau membuka pertambangan di Lembata??? Merukh bukan?? Kalau ditarik benang merah, Merukh itu PNI Marhaen,,,,jo Paket pendukung Anda dari partai Merah (mncong putih) bukan??? No...Lihat Selengkapnya

      Selasa pukul 20:24 ·  ·  1 orang

    • Non Betty Lomblen Kak pius, merukh itu broker sja jdi ujung2nya juga serahkan di pemodal seperti aburizal bakri. Jdi, yang foto dgn bakri itu yg siapa? Masyarakat di lmbta sni so tau smua le kakak
      Selasa pukul 20:43 · 

    • Pius Klobor Non jelasnya coba tanya ke paket Anda. Dia kan wakil Rakyat di Bekasi. Kenapa dia meninggalkan rakyatnya dan pergi ke Lembata yang katanya adalah kampung dia. Tau, rumah adatnya ada di mana...Bukan hanya itu non, lagi, coba tanya ke paket Anda; Sikap dia thd 'rumah merah' dan menjamurnya diskotik di llb thu bgamana? Di bekasi saja dia punya diskotik le ina.... Jo????
      Selasa pukul 20:48 ·  ·  1 orang

    • Asten Kerans ‎@pw:dalam laporan merukh jelas tertulis bahwa orang2 di fraksi golkar dprd lembata yang paling getol untuk segera menetapkan ranperda rtrw menjadi perda..............
      Selasa pukul 21:31 ·  ·  3 orang

    • Jackie Lay Hush..Asten..loe jangan mancing diair keruh....pernyataan loe ga berdasar...asal ngomong doang....anda belom bisa jadi pemain gotry..ok??
      Rabu pukul 8:49 ·  ·  1 orang

    • Jackie Lay Pernyataan yang tak berdasar hanya mengahancurkan keinginan anda.....stop...kalian mau mancing....mancing yang enak....
      Rabu pukul 8:51 ·  ·  1 orang

    • Inocentius Ola Lakonawa 
      PW: Salam kenal, go'e Ino ata Horinara Riangbaka, Kecamatan Kelubagolit, Adonara yang sejak lima tahun terakhir kerja di sebuah tambang emas di Mandailing Natal, Sumut. Sharing saja, Aspan Sopian Batubara, bupati Madina sebelum terpilih per...Lihat Selengkapnya

      Kemarin jam 1:07 · 

    • Asten Kerans om jackie lay,..saya punya data bos.....
      4 jam yang lalu · 

    • Intan Morales IOL@sbg warga lamaholot sharusnya kita sdari low adat kita tdk sama dg daerah2 yg lain!!!apalagi ama orang adonara tentunya tahu itu!!!setan Flores tdk sama dg setan Sumut!! mknya d Lembata diupayakan untuk sumpah Adat!!!
      3 jam yang lalu · 

    • Eropaun Jgc IT, Ternyata anda sdh mulai sadar dengan Lewotanah LAMHOLOT
      3 jam yang lalu · 

    • Eropaun Jgc Maksudnya IM
      3 jam yang lalu · 

    • Intan Morales bkn mulai sdar tp sy sdh sdar!!trus abang sndri sdh sdar blom!!??
      3 jam yang lalu · 

    • Eropaun Jgc Dari lahir,soalnya anda dari awal kelihatan masi berada di bawah ketiaknya kapitalis
      3 jam yang lalu · 

    • Intan Morales yg dibawa ketiak kapitalis itu saya atw anda?
      sekitar sejam yang lalu · 

    • Eropaun Jgc Kalau anda di atas ketiak bkn di bawah kenapa harus diam ketika lembata ini mau dijual kapitalis?
      sekitar sejam yang lalu · 

    • Intan Morales CP YG MENJUAL???tanyakan pada batin anda!!

Jumat, 03 Juni 2011

Sepasang Muda-mudi Lolos

WAINGAPU, pos-kupang.com –– Demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat menggelar operasi. Kegiatan ini dilaksanakan tiga kali seminggu dengan berpatroli mengelilingi titik-titik rawan Kamtibmas.
Operasi ini sudah dilakukan sejak awal Mei 2011. “Ini baru kali yang ke empat dan sasarannya untuk menjaga kenyamaman masyarakat,” kata Kepala Satpol PP Sumba Timur,  Gollu Wola di kantornya, Senin (23/5/2011).
Dia menjelaskan, selama ini pihaknya menerima banyak keluhan serta laporan warga kota ini tentang ketidaknyaman akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.  Misalnya, kasus kecurian, pemalakan dan keributan pada malam hari.
Atas dasar pengaduan ini, Satpol PP melakukan operasi penertiban pada malam hari. “Jadi kalau kita patroli dan ada oknum yang mencurigakan, kita tangkap. Atau kalau ada anak-anak muda yang kumpul dan minum alkohol kita tegur dan kasih bubar,” jelasnya.
Operasi penertiban, lanjutnya, biasanya digelar minimal tiga kali dalam seminggu. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa nyaman bagi warga.
“Kita melakukan koordinasi dengan pemerintah tingkat RT hingga kelurahan serta camat untuk memberikan informasi tentang daerah dan titik  rawan sehingga petugas bisa pantau,” katanya.
Pantauan Pos Kupang, Senin (23/5/2011) malam, anggota Satpol PP menggelar operasi keliling kota.  Patroli yang dipimpin Kasat Pol PP Sumba Timur, Gollu Wola itu sejak pukul 20.00- 00.00 Wita. Dalam operasi, dua orang pelajar ditangkap saat berkeliaran dan dicurigai akan membuat kegaduhan di Jalan El Tari. Dua orang itu diberi pembinaan dan dibawa ke rumah orangtua masing - masing.
Ketika berada di wilayah Kambajawa, terdapat  sepasang muda mudi yang diduga masih berstatus pelajar sedang memadu kasih di dalam hutan. Pasangan muda-mudi ini segera kabur dengan sepeda motor begitu mengetahui kedatangan mobil patroli Satpol PP.
Powered By Blogger

Anak Ganteng Punk Foto

Anak Ganteng Punk Foto
x X x

my Acoouunntt

Open Panel

Blogroll