Oleh FERDY HASIMAN Bandit demokrasi pada tingkat lokal tak terbendung. Demokrasi yang telah diperjuangkan dengan susah payah sejak reformasi 1998 dibajak politisi tak bertanggung jawab. Para politisi ituadalah gubernur dan bupati/wali kota. Mereka memanfaatkan otonomi daerah untuk menghidupkankembali neokolonialisme Soeharto melaluipemberian konsesipertam- bangan yang kebanyakan ilegal. Kementerian Energi dan Sumber DayaMineral mencatat,dari 8.475 izin usaha pertambangan (IUP)yang diterbitkanpemerintah daerah, hanya 3.971 IUP legal dan 4.504 IUP ilegal. Nusa Tenggara Timur hanya contoh dalam tulisanini. Seperti tersua pada dataDinas Pertam-banganNTT (2010),di sana319 pemegang IUP tak mengantongi dokumen resmi.Demi menambahpenerimaan daerah,ratusan hektartanah danarea hutanlindung disabotase hanya untuk investasi pertambangan mangan. Masalah sosial pun merebak. Buruh dibayar takwajar, terjadi rebutan lahan antarsuku, dan penambanganrakyat takterbendung. Kepincut oleh iming-iming nilai ”batu manganyang bisa berubah menjadirupiah”, warga beralih profesi dari petani penggarap menjadi pengumpul mangan. Pertanyaannya, mengapa tambang ilegal mekar? Desainotonomi daerah memang tak dipersiapkan secara matang. Reformasi birokrasi dan penegakan hukumdi daerahsangat rapuh.Kerapuhan regulasi digunakan para pemodal untuk mengakumulasi kekayaan. Memanglahpelaku ekonomipada dasarnya menampilkan watak asosial dan cari untung. Setelah pemberlakuanUU No 22/1999tentang OtonomiDaerah yangdiamandemen dengan UU No 32/2004,wewenang mengeluarkan izin pemberian kuasa pertambangan dan IUP beralih dari pemerintah pusat ke pemda. Peralihan inimemudahkan para pemodal domestik dan asing berinvestasi. Untuk mencari untung, parapemodal itubersahabat mesra dengan pemda. Persahabatan mereka tentu bersifat instrumental. Artinya, hanya sebagai alat dalam pencapaian kepentingan diri. Itulah yang menjawab teka-teki mengapa banyakpenjahat, seperti penambang ilegal, dibiarkan begitu saja oleh pemda. Selalu cari celah Pertambangan di NTT adalah contoh ulah para penjahat. Sebuah kapal milik TNI AD berisi 3.000 ton hasil penjualan mangan ilegal ditahan aparatur kepolisian di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya (Timor Expres, 15/5/2011). Penjahat memang selalu mencaricelah untukmencuri.Celah itu ada dalamUU No 4/2009 tentang PertambanganMineral danBatubara. Pasal43 Ayat(1) dan (2) memberi kesempatan kepada pemegangIUP eksplorasi menjual mineral yang sudah tergali meski ada penegasan bahwa tambanghasil eksplorasiyang dijual wajib dilaporkan kepada pemberi izin: gubernur, bupati, atau menteri. Persoalannya, pemerintahlokal ikutbermain didalamnya. Kepala Dinas Pertambangan NTT dijerat hukum lantaran terlibat kasus penjualan mangan ilegal (Kompas, 25/10/2010).Menangkal bajingansebenarnya mudah apabilanegara dengan seperangkat alatnya—hukum dan regulasi—selalu siaga.Namun, bagaimana menjaga penjahat jika aparatur negaraterlibat dalam penjualan mangan ilegal? Keterlibatan pemerintah lokal dalam penjualan tambang ilegal bukan tanpa alasan. Semua pihak paham bahwa demokrasi kita, mulai dari tingkatpusat hingga daerah, diselimuti politik uang. Ditengah sistempolitikyang memberhalakan uang, pemerintah perlu memberi karpet merah kepada investorhanya untuk mencalonkan diri lagi ke pilkada berikutnya. Ada garis paralel antara perusahaan (kapitalis me) dan politisi (partai politik) dalam demokrasi. Keduanya memerlukan kompetisi terbuka. Dalamkapitalisme, kompetisi antarperusahaan merebut konsumen plus akumulasi. Dalam demokrasi, kompetisi antarparpol merebut pemilih. Kompetisi seperti ini bagai hukum alam:siapa bermodalkuat akanmenang dalampertarungan.Konsekuensinya, parpolme reduksi rakyat menjadi semata-mata konsumen. Disposisi serba pasarini mengamputasilingkuppublik demokratis.Pilihan atas dasar pasar melemahkan pilihanpolitik karenapilihanindividu mendahului keputusan kolektif. Politisi akhirnya mengabaikankonsep ruangpubliksebagai tempatberdiskusi tentang pilihan-pilihan kolektif. Risikonya, tawaran elemen masyarakat mengajukan pembangunan alternatif (nirtambang) dengan pertimbanganekologis dan pelestarianbudaya lokaltak pernahdidengar olehpemda. Pemda diNTT, misalnya,menganggaptambang sebagaiharga mati untuk mengangkat kesejahteraan rakyat. Ironisnya, publik tidakpernah pahamberapa kapasitas produksi dan penjualan mangan setiap tahun. Jika saja publik paham informasi seputar pembukuanperusahaan, kalkulasi berapa royalti yang masukke kantongdaerah bisa dilakukan dengan tepat. Namun, semua informasi seputar tambang telah dikontrol investor dan pemerintah lokal. Realitas ini disebutoleh ekonom Joseph Stiglitz sebagaiasimetri kekuasaan.Artinya, kekuasaan lebihmemberi aksesmudah bagi pemodaldaripada rakyat untuk mengontrol sumber kekayaan daerah. Akibatnya, konsesi pertambanganyang bertujuan pembangunan jangka panjang hanya dimenangi penguasa ekonomi dan gagal mengangkat rakyat. Mengorbankan rakyat adalah wajah demokrasi kita yang diselimuti politik uang. Pemerintah bukan lagi abdi rakyat, melainkan berubah jadi bandit atau perpanjangan tangan pengusaha. Kesejahteraan rakyat terbengkalai. Otonomi daerah tak lagi bertujuan mendekatkanpemerintah pada kondisiriil warga, tetapi semakin menjauh dari kondisi riil warga lokal. Pilihan rasional Bagaimana menyelamatkan agenda otonomi daerah dari penjahat seperti itu? Kebijakan publik harus rasional.Rasional tidaknya kebijakan dilihat saat pemerintah menimbang aspirasi rakyat. Partisipasi rakyat dalam pembangunan pentinguntuk mencegah konflik kepentingan. Dalam konteks pertambangan, pemberian izin konsesi harus transparan.Rakyat perlupaham apa yang akan diproduksi, berapa banyak produksi,dan berapa yang masukke kantongdaerah. Ini mempermudah kontrol. Denganpilihan rasional,rakyat jugaberhak menolakinvestasi pertambangan. Pemerintah takbisa memukulratasemua daerah di Indonesia cocok untuk pertambangan. Maka, pemerintah perlu menyusun strategi pembangunan berdasarkan keunggulandan kelemahansetiap daerah. NTT,misalnya, hanya cocok untuk sektorpertanian danpariwisata. Potensi pariwisata di daerah ituamat besar.Angkat saja Taman NasionalKomodo dan DanauKelimutu. Investasipertambanganjustru merusakwisatayang instrumental meningkatkan devisa negaradan menyejahterakan rakyat. Tinggal sekarang bagaimanapemerintah lokal menarik minat investor dengan mengangkat daya saing melalui pembangunantransportasi, listrik, fasilitasair minum,dan prasarana fisik lain. FERDY HASIMAN Peneliti di Indonesia
LinkList
Senin, 27 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
dukung tambang!!!!
No_paul PUNK
http://www.facebook.com/home.php?sk=group_123887134336285&view=permalink&id=176920249032973
http://www.facebook.com/home.php?sk=group_123887134336285&view=permalink&id=176920249032973
sedang terjadi konsolidasi kekuatan pro Tambang dalam Pilkada Lembata Putaran kedua......ada kekuatan politk yang sedang mendorong ketua DPRD Lembata agar RTRW segera disahkan namun permintaan itu ditolak. ini bagian dari kecewa politik karena tidak dipilih rakyat di kawasan calon lokasi tambang Lembata......
Senin, 06 Juni 2011
Jumat, 03 Juni 2011
Sepasang Muda-mudi Lolos
WAINGAPU, pos-kupang.com –– Demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat menggelar operasi. Kegiatan ini dilaksanakan tiga kali seminggu dengan berpatroli mengelilingi titik-titik rawan Kamtibmas.
Operasi ini sudah dilakukan sejak awal Mei 2011. “Ini baru kali yang ke empat dan sasarannya untuk menjaga kenyamaman masyarakat,” kata Kepala Satpol PP Sumba Timur, Gollu Wola di kantornya, Senin (23/5/2011).
Dia menjelaskan, selama ini pihaknya menerima banyak keluhan serta laporan warga kota ini tentang ketidaknyaman akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya, kasus kecurian, pemalakan dan keributan pada malam hari.
Atas dasar pengaduan ini, Satpol PP melakukan operasi penertiban pada malam hari. “Jadi kalau kita patroli dan ada oknum yang mencurigakan, kita tangkap. Atau kalau ada anak-anak muda yang kumpul dan minum alkohol kita tegur dan kasih bubar,” jelasnya.
Operasi penertiban, lanjutnya, biasanya digelar minimal tiga kali dalam seminggu. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa nyaman bagi warga.
“Kita melakukan koordinasi dengan pemerintah tingkat RT hingga kelurahan serta camat untuk memberikan informasi tentang daerah dan titik rawan sehingga petugas bisa pantau,” katanya.
Pantauan Pos Kupang, Senin (23/5/2011) malam, anggota Satpol PP menggelar operasi keliling kota. Patroli yang dipimpin Kasat Pol PP Sumba Timur, Gollu Wola itu sejak pukul 20.00- 00.00 Wita. Dalam operasi, dua orang pelajar ditangkap saat berkeliaran dan dicurigai akan membuat kegaduhan di Jalan El Tari. Dua orang itu diberi pembinaan dan dibawa ke rumah orangtua masing - masing.
Ketika berada di wilayah Kambajawa, terdapat sepasang muda mudi yang diduga masih berstatus pelajar sedang memadu kasih di dalam hutan. Pasangan muda-mudi ini segera kabur dengan sepeda motor begitu mengetahui kedatangan mobil patroli Satpol PP.
Operasi ini sudah dilakukan sejak awal Mei 2011. “Ini baru kali yang ke empat dan sasarannya untuk menjaga kenyamaman masyarakat,” kata Kepala Satpol PP Sumba Timur, Gollu Wola di kantornya, Senin (23/5/2011).
Dia menjelaskan, selama ini pihaknya menerima banyak keluhan serta laporan warga kota ini tentang ketidaknyaman akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya, kasus kecurian, pemalakan dan keributan pada malam hari.
Atas dasar pengaduan ini, Satpol PP melakukan operasi penertiban pada malam hari. “Jadi kalau kita patroli dan ada oknum yang mencurigakan, kita tangkap. Atau kalau ada anak-anak muda yang kumpul dan minum alkohol kita tegur dan kasih bubar,” jelasnya.
Operasi penertiban, lanjutnya, biasanya digelar minimal tiga kali dalam seminggu. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa nyaman bagi warga.
“Kita melakukan koordinasi dengan pemerintah tingkat RT hingga kelurahan serta camat untuk memberikan informasi tentang daerah dan titik rawan sehingga petugas bisa pantau,” katanya.
Pantauan Pos Kupang, Senin (23/5/2011) malam, anggota Satpol PP menggelar operasi keliling kota. Patroli yang dipimpin Kasat Pol PP Sumba Timur, Gollu Wola itu sejak pukul 20.00- 00.00 Wita. Dalam operasi, dua orang pelajar ditangkap saat berkeliaran dan dicurigai akan membuat kegaduhan di Jalan El Tari. Dua orang itu diberi pembinaan dan dibawa ke rumah orangtua masing - masing.
Ketika berada di wilayah Kambajawa, terdapat sepasang muda mudi yang diduga masih berstatus pelajar sedang memadu kasih di dalam hutan. Pasangan muda-mudi ini segera kabur dengan sepeda motor begitu mengetahui kedatangan mobil patroli Satpol PP.
Langganan:
Komentar (Atom)
Anak Ganteng Punk Foto
x X x

