LinkList

Selasa, 28 Februari 2012

10 TANDA PRIA PLAYBOY

No_pa


Tidak ada wanita yang ingin memiliki kekasih playboy. Tapi masih banyak yang tidak menyadari kalau dia sedang memacari pria playboy. Sebelum terlanjur cinta, kenali dulu karakternya.

1. Menghubungi Setelah Pukul 11 dan 12 Malam

Ada 24 jam setiap harinya. Jika pria menyukai Anda, dia akan memilih waktu yang tepat untuk menanyakan kabar Anda. Setelah pukul 11 dan 12 malam merupakan jam 'iseng' pria. Jika ia menelepon di jam-jam tersebut berarti dia tidak ingin serius dengan Anda, dia hanya sedang mencoba menggoda Anda di waktu luangnya.

2. Memiliki Banyak Teman Wanita

Waspadalah ketika pria memiliki banyak teman wanita dibanding pria. Tipikal pria playboy dapat dekat dengan beberapa wanita dalam satu waktu. Jadi jika si dia sering menerima telepon dari wanita, Anda harus lebih waspada padanya.

3. Pintar Merangkai Kata

Mengapa wanita sulit untuk menolak jeratan si playboy? Karena dia pandai berbicara dan merayu. Dia tahu apa yang harus dibicarakan ketika Anda sedang marah, kesal atau sedih. Dia pun akan membuat Anda merasa istimewa dan setiap kata-katanya mencerminkan dia pria yang baik. Pada saat ini, sesungguhnya dia sedang menipu Anda dan mengontrol emosi Anda.

4. Berbicara Banyak Tentang Fisik Anda

Wanita mana yang tidak senang akan pujian. Namun ketika dia lebih banyak memuji bagian tubuh Anda, maka berhati-hatilah. Dia menginginkan hubungan yang lebih dan sedang mencoba mempermainkan Anda.

5. Bersikap Berbeda di Depan Teman-teman Prianya

Ketika berada di depan teman-temannya, pria tipe player akan lebih banyak memberi pelukan dan sentuhan fisik kepada wanitanya. Jangan bangga dulu, ini bukan lah ungkapan sayangnya, tapi sekedar ingin menunjukkan kepada teman-teman prianya 'ini mangsa baruku'.

6. Sangat Percaya Diri

Si player memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Bagaimana tidak, dia merasa dapat menaklukan gadis-gadis yang diinginkan.Lebih dari itu, mereka dapat menjerat dua hingga tiga gadis sekaligus dalam satu waktu. Itulah yang membuat playboy semakin percaya diri.

7. Tidak Tertarik dengan Hidup Anda

Ketika dia bertanya tentang hari-hari Anda, belum tentu dia benar-benar
mempedulikannya. Mereka membuat seolah peduli, pada kenyataannya tidak. Mereka melakukan ini semua untuk mendapatkan sesuatu. Ketika seorang wanita telah mempercayainya, maka dengan mudah dia akan mendapatkan keinginannya.

8. Menghindari Pergi Bersama Anda
Tentu si player ingin bermain mulus dengan para wanitanya. Sehingga ia memilih menghindari pergi keluar bersama Anda. Tapi ada juga tipe player yang sangat lihai. Bisa jadi, sebelum pergi bersama Anda, dia akan meminta izin ke wanita lainnya kalau ia akan pergi bersama sepupu atau adik perempuannya. Taktik ini dilakukannya untuk membuatnya lebih aman jika bertemu dengan seseorang (TRIBUNNEWS.COM)ul PUNK

Selasa, 21 Februari 2012

Gunung Lewotolok di Lembata Batuk-batuk 400 Pengungsi Serbu Lewoleba



No_paul PUNK

Kamis, 5 Januari 2012 | 11:10 WITA
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA --- Sejak diumumkannya status siaga tiga terhadap Gunung (Ile) Lewotolok, Selasa (3/1/2012), sekitar 400 orang pengungsi menyerbu Kota Lewoleba, Rabu (4/1/2012). Diperkirakan jumlah pemgungsi terus meningkat beberapa hari ke depan.

Arus pengungsi secara spontanitas itu berasal dari empat desa yang terkena dampak langsung letusan di Kecamatan Ile Ape Timur, yakni Desa Jontona, Lamatokan, Lamawolo dan Lemau.
Sebagaimana dilaporkan Fince Bataona, warga Lembata yang juga mantan wartawan Pos Kupang, kemarin, di Lewoleba para pengungsi tak hanya menginap di Posko Aula Ankara tetapi  menyebar di rumah-rumah keluarga dan terdata kurang lebih 41 rumah.
"Karena menyebar di rumah-rumah keluarga yang ada di Lewoleba, kami mengalami kesulitan mendrop bantuan beras. Bayangkan seharian ini saja belum semuanya terjangkau dari 41 rumah yang terdata. Kendaraan hanya satu dan harus keliling dari rumah ke rumah," ujar Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Lembata, Mikhael Tukan, yang ditemui di Aula Posko Ankara, kemarin.
Tukan mengakui karena kurangnya koordinasi penanganan pengungsi, tugas pendropingan bantuan cukup melelahkan petugas dan bukan tidak mungkin pengungsi lainnya tidak mendapat bantuan meskipun sudah melaporkan keberadaannya kepada petugas.
"Tidak hanya kami yang lelah tetapi masyarakat pengungsi juga yang susah. Mereka yang tinggal di keluarga juga tidak mendapat pelayanan memadai. Jika terkonsentrasi di tempat yang sudah disiapkan pemerintah, dinas kesehatan juga menyiapkan pelayanan kesehatan," ujar Tukan.
Soal makanan, Tukan mengakui ketersediaan beras cukup, tetapi kebutuhan lauk- pauk cukup sulit dipenuhi. "Tidak ada uang untuk beli ikan. Tadi makan siang dengan mie dan ikan sardin tetapi kalau makan terus dengan menu yang sama, orang bisa sakit perut," kata Tukan.
"Orang kampung tidak terbiasa makan sardin kaleng.  Saya sudah tanya soal ini ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tetapi katanya kita bon saja dulu nanti pakai kwitansi dan diurus uangnya. Tetapi beli ikan mentah di pasar atau  kayu bakar pakai bon dan kwitansi segala? Kalau berbelit begini dalam situasi seperti ini malah bikin susah orang," ujar Tukan.
Tukan merinci, hingga hari kedua, pihaknya  sudah mendrop beras sebanyak 32 karung (50 kg) atau sebanyak 1600 kg dan 10 dos ikan sardin kaleng (satu dos berisi 72 kaleng) ke seluruh titik tempat pengungsian.
Soal kurangnya koordinasi dalam penangananan pengungsi, Asisten II  Setda Lembata, Gabriel Bala Warat, yang dihubungi ke ponselnya  mengaku sedang berada di Desa Watodiri, Ile Ape. Kata Gabriel, Humas Setda akan menjelaskan  soal ini. "Saya ada di Watodiri tapi nanti Humas yang menjelaskan," ujar Gabriel.



No_paul PUNK


Kamis, 5 Januari 2012 | 11:10 WITA
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA --- Sejak diumumkannya status siaga tiga terhadap Gunung (Ile) Lewotolok, Selasa (3/1/2012), sekitar 400 orang pengungsi menyerbu Kota Lewoleba, Rabu (4/1/2012). Diperkirakan jumlah pemgungsi terus meningkat beberapa hari ke depan.


Arus pengungsi secara spontanitas itu berasal dari empat desa yang terkena dampak langsung letusan di Kecamatan Ile Ape Timur, yakni Desa Jontona, Lamatokan, Lamawolo dan Lemau.
Sebagaimana dilaporkan Fince Bataona, warga Lembata yang juga mantan wartawan Pos Kupang, kemarin, di Lewoleba para pengungsi tak hanya menginap di Posko Aula Ankara tetapi  menyebar di rumah-rumah keluarga dan terdata kurang lebih 41 rumah.
"Karena menyebar di rumah-rumah keluarga yang ada di Lewoleba, kami mengalami kesulitan mendrop bantuan beras. Bayangkan seharian ini saja belum semuanya terjangkau dari 41 rumah yang terdata. Kendaraan hanya satu dan harus keliling dari rumah ke rumah," ujar Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Lembata, Mikhael Tukan, yang ditemui di Aula Posko Ankara, kemarin.
Tukan mengakui karena kurangnya koordinasi penanganan pengungsi, tugas pendropingan bantuan cukup melelahkan petugas dan bukan tidak mungkin pengungsi lainnya tidak mendapat bantuan meskipun sudah melaporkan keberadaannya kepada petugas.
"Tidak hanya kami yang lelah tetapi masyarakat pengungsi juga yang susah. Mereka yang tinggal di keluarga juga tidak mendapat pelayanan memadai. Jika terkonsentrasi di tempat yang sudah disiapkan pemerintah, dinas kesehatan juga menyiapkan pelayanan kesehatan," ujar Tukan.
Soal makanan, Tukan mengakui ketersediaan beras cukup, tetapi kebutuhan lauk- pauk cukup sulit dipenuhi. "Tidak ada uang untuk beli ikan. Tadi makan siang dengan mie dan ikan sardin tetapi kalau makan terus dengan menu yang sama, orang bisa sakit perut," kata Tukan.
"Orang kampung tidak terbiasa makan sardin kaleng.  Saya sudah tanya soal ini ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tetapi katanya kita bon saja dulu nanti pakai kwitansi dan diurus uangnya. Tetapi beli ikan mentah di pasar atau  kayu bakar pakai bon dan kwitansi segala? Kalau berbelit begini dalam situasi seperti ini malah bikin susah orang," ujar Tukan.
Tukan merinci, hingga hari kedua, pihaknya  sudah mendrop beras sebanyak 32 karung (50 kg) atau sebanyak 1600 kg dan 10 dos ikan sardin kaleng (satu dos berisi 72 kaleng) ke seluruh titik tempat pengungsian.
Soal kurangnya koordinasi dalam penangananan pengungsi, Asisten II  Setda Lembata, Gabriel Bala Warat, yang dihubungi ke ponselnya  mengaku sedang berada di Desa Watodiri, Ile Ape. Kata Gabriel, Humas Setda akan menjelaskan  soal ini. "Saya ada di Watodiri tapi nanti Humas yang menjelaskan," ujar Gabriel.

Senin, 13 Februari 2012

KICAUAN ANGGI


No_paul PUNK "Februari Dear Bloggers, Februari... Bulan ini rupanya "agak" banyak bercerita tentang diriku... Let's move on lah dengan segala kapasitasku... Biarlah aku menginjak menyusuri kerikil ini mencapai tujuan yang bersolek elok, berkilau dan teduh di ujung sana walaupun ku tak tahu kapan akan sampai kesana.... Yang kupercaya ada Allah SWT mau ikut membimbingku kesana, membekaliku dengan ketegaran, kesabaran dan keikhlasan... Amiin. Semua ini miliknya, dan akan kembali kepadanya. La Tahzan Angie...dalam kesulitan akan datang kemudahan, begitu janjiNYA padaku. Hmmm tapi kenapa terasa tak berhenti ya Rabb? apakah aku begitu lemah dan kosong sehingga kertas ujian itu hanya selalu dipenuhi soal-soal yang tak kunjung benar jawabannya? atau apakah aku terlalu kuat sehingga Engkau terus menunggu hasil-hasil jawabanku yang selalu istimewa?apapun itu semua adalah kuasaMu. PerintahMu yang kuingat adalah kertas ujian itu bukan untuk dirobek-robek Angie...tetapi untuk kau selesaikan! Berarti aku tidak boleh marah, aku tidak boleh memberontak atau malah berbalik memusuhi dan menghujatMu beserta tingkah polah "ajaib" insan di dunia ini? Baiklah....aku usahakan seperti itu, tetapi janji ya Rabb antarkan aku dan anak-anak secepatnya ke telaga warna yang penuh cahaya itu.....kami ingin merasakan wanginya ketentraman dan ketulusan. Semua takdirmu baik ya Allah.....tidak patut aku menyalahkan keadaan, tidak bijak jika aku teriak, tidak etis apabila ku meringis. Tenggelam dalam doa kepadaMu itu akan lebih tepat adanya.... Lebih baik pula mensyukuri nikmatmu yang berlimpah, termasuk kemuliaan hari ini yang kembali menghantarkan aku pada kenangan akan sosok tercinta itu.... Apa kabarmu mas Adjie? beruntunglah engkau telah lepas dari gelombang badai hiruk pikuk dunia ini. Tak perlu risau akan diriku dan anak-anak....kami pasti berhasil menjalani semuanya, insyaAllah. Setahun ini Engkau telah berpulang suamiku, bertepatan dengan hari lahir Rasul Muhammad SAW. Semoga hari ini menjadi hari yang indah untuk almarhum suamiku, berkat gema sholawat yang ramai di dunia dari umatMu ya Allah. Amiiin ya Robbal a'lamiin.. Love, Angie (ren) • VIVAnews

Kamis, 09 Februari 2012

Membangun Wibawa Kepemimpinan

No_paul PUNK


Catatan: Artikel ini saya pernah bawakan dalam bentuk kuliah via radio di Radio RRI Makassar, tanggal 18 Januari 2010, pukul 10.00-11.00. Kuliah ini diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah IX Sulawesi.
Mengapa Boediono dan mantan presiden JK diperlakukan “beda” di kasus panitia angket Century? JK dipanggil Bapak dan ada rasa hormat dengan beliau, kalaupun ada yang panggil dengan sebutan daerah, pasti tidak bermaksud menghina, walau aneh terdengar di telinga. Sedangkan wapres kita kok sepertinya tidak dihargai? Dan sepertinya dicecar banyak sekali pertanyaan dan rasa bahasa yang terbaca di TV, sepertinya Pak Boediono “dibantai” oleh DPR. Begitu pula perlakuan terhadap Sri Mulyani dan pejabat lainnya.
Pertanyaan ini saya tidak jawab secara politik, karena memang bukan bidang saya. Saya hanya memfokuskan kepada wibawa. Refleksi kepemimpinan yang muncul waktu melihat tayangan Pansus Century DPR adalah darimana pemimpin mendapat wibawa? Banyak juga yang menyebutkan wibawa dengan istilah lain seperti kharisma, pengaruh, dan otoritas.
Tentu, ada banyak definisi kepemimpinan, ada ratusan. Namun salah satu definisi John Maxwell mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh (leaderhsip is influence). Tetapi dari mana datang kekuatan untuk bisa mempengaruhi orang lain? Banyak teori kepemimpinan mengkaji akan hal ini. Saya hanya mengambil salah satu teori, di mana ada lima level pemimpin mendapatkan wibawanya. Maxwell menyebut tentang adanya lima level kepemimpinan (lihat Developing the Leader Within You)
Pertama, wibawa datang dari posisi yang diterimanya (leadership by position). Posisi ini bisa berupa penempatan atau pemberian jabatan dari pimpinan atau terpilih menjadi anggota Dewan, dan seterusnya. Posisi ini juga didapat karena pendidikan yang diterimanya atau keahlian kerja yang telah dimilikinya. Jadi posisi seseorang dapat membuat dia memiliki wibawa. Namun ini baru wibawa awal, karena banyak juga bawahan dan komunitas menentang posisi kita. Mereka tidak bersedia dipimpin kalau tidak kompeten. Jadi wibawa karena posisi masih lemah atau lebih tepatnya baru awal dari wibawa. Contohnya, perilaku anggota DPR menunjukkan bahwa posisi Sri Mulyani dan posisi Boediono, serta berbagai pejabat yang datang ke DPR tidak menakutkan mereka, bahkan kadangkala berlaku, maaf, sangat tidak sopan.
Kedua, wibawa diperoleh karena bawahan atau pengikut dari satu organisasi mau dipimpin atau memilih saudara sebagai pemimpin (leadership by permission). Itu didapat lewat relasi yang baik antara pemimpin dengan rekan-rekannya, karyawannya atau masyarakat yang memilihnya bila dia anggota Dewan. Ketika pengikut merasa bahwa kita adalah orang yang tepat di posisi itu dan mereka mau bekerja untuk kita, maka itulah yang menghasilkan wibawa. Pada level ini pemimpin diharapkan mengembangkan relasi dan kehumasan dengan baik. Bentuk pecitraan diri juga baik, namun kemampuan berelasi jauh akan menambah wibawa pemimpin. Namun ini masih belum cukup hanya karena bawahan mulai menerima kepemimpinan.
Ketiga, wibawa akan meningkat karena ada hasil yang terlihat setelah seseorang memegang posisi yang diberikan (leadership by production). Misalnya kalau ditempatkan menjadi pimpinan dalam penjualan, maka hasil penjualan meningkat, omset bertambah, mutu bertambah baik dan ada hasil lainnya, maka wibawa akan meningkat. Umumnya pemimpin yang sukses memimpin dengan menunjukkan hasilnya akan diundang ke berbagai acara untuk menceritakan keberhasilannya, apalagi disertai dengan liputan media yang besar. “People are driven by success”, begitu kata pepatah. Jadi wibawa didapat ketika seseorang diakui keberhasilan dan pencapaiannya.
Keempat, pemimpin mendapat wibawa dengan orang-orang yang dikembangkannya (leadership by people developpment). Kepemimpinan itu sejalan dengan waktu, dan wibawa akan terus bertambah jika pemimpin berhasil mengembangkan orang lain di bawahnya untuk menjadi pemimpin sesuai dengan bakatnya.
Kelima, wibawa pemimpin didapat karena pengembangan dirinya lewat integritasnya (leadership by personhood). Sejalan dengan waktu maka pemimpin harus terus memelihara karakternya, relasinya, dan integritasnya. Pada awalnya mungkin semua prinsip etika dan moral masih dalam bentuk pencarian, namun akhirnya semua itu akan nampak lewat kepribadiannya sendiri yang otentik, bukan dalam bentuk slogan lagi. Dan ini membuat orang memiliki kharismanya dan akan terus bersinar. Proses ini adalah proses yang panjang dalam kehidupan pemimpin dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Robert Clinton menyebut sebagai proses seumur hidup di dalam “university of life”.
Bila kita telah memahami lima level kepemimpinan ini, maka setiap kita harus memberikan refleksi pribadi. Pertama, kita harus memaksimalkan potensi yang ada pada kita sehingga menjadi kompetensi. Kedua, kita harus memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama karena kepemimpinan adalah relasi. Ketiga, kita harus memiliki karakter yang baik, budi pekerti luhur dalam kata dan perbuatan.


Daniel Ronda

No_paul PUNK


PEMEKARAN NILAI ORANG MUDA KATOLIK

1. Pendahuluan
Mencermati situasi dan kondisi tatanan nilai yang berkembang dalam masyarakat jaman ini sungguh menimbulkan suatu keprihatinan yang luar biasa. Hal ini ditandai dengan begitu banyak tatanan nilai yang dirusakan oleh manusia-manusia jaman ini yang katanya semakin modern dan terbuka. Globalisasi menjadi biang kerusakan keadaban publik menjadi sorotan sentral dan melupakan manusia sebagai pelaku utama globalisasi. Tercatat ada empat hal yang merupakan dampak dari globalisasi, pertama, mengukur segala sesuatu secara kapital/materi, kedua, ketergantungan, ketiga, ketidakdilan, keempat, nilai-nilai sekularisasi( terutama dalam hal-hal keagamaan ). Arus deras informasi baik melalui media cetak maupun elektronik sangat berperan dalam menggilas pribadi, menyerang keluarga dan masayarakat umum disaat-saat
mereka santai, melalui bujukan-bujukan halus dan menghibur untuk membeli produk-produk dan gaya hidup. Tidak mudah lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dana mana yang salah, mana yang perlu dan mana yang sekedar mendatangkan kesenangan. Masalahnya ialah berbagai informasi ini dapat dengan mudah berperan sebagai kekuatan yang membentuk pendapat umum yang seolah-olah benar dan baik( Nota Pastoral KWI 2004 no.11). Maka Bapa-Bapa Waligereja dalam refleksinya melalui Nota Pastoral tahun 2004 menyebutkan bahwa masalah serius yang kita hadapi dan alami adalah persoalan rusaknya keadaban publik. Keadaban publik sangat berkaitan erat dengan tatanan nilai yang dihidupi pribadi dan masyarakat. Maka kerusakan keadaban publik disebabkan karena tatanan nilai diombang-ambingkan dalam kebersamaan. Kehidupan dirasakan dan dialami tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai budaya dan agama. Segala sesuatu diukur dengan materi, uang dan kedudukan.
Menanggapi situasi yang sangat memprihatinkan ini, kita diharapkan agar mengembangkan budaya alternatif untuk semua lapisan warga masyarakat termasuk kaum muda yang notabene berlabelkan Katolik melalui Pendidikan Nilai. Pengembangan budaya alternatif dengan pendidikan nilai bagi orang muda kiranya sangat strategis karena orang muda masih berada dalam tahap pengembangan diri dan pencarian identitas, sehingga pendidikan/pemekaran nilai akan sangat efektip bagi pembentukan karakter dan pengembangan diri yang baik dan sekaligus kristiani.
2. Pendidikan Nilai/ Pemekaran Nilai – Nilai
Globalisasi dan kemajuan perkembangan teknologi komunikasi memberikan berbagai kemudahan namun dampak negatifnya justru jauh lebih besar. OMK menjadi individualis, komsumtif, apatis, hedonis dan kehilangan daya kritis. Bahkan OMK mengalami krisis moral dan iman. Situasi ini semakin diperparah oleh lemahnya pendampingan dari keluarga dan masyarakat. Faktor penting yang mengakibatkan situasi ini adalah lemahnya Pendidikan Nilai kehidupan yang diberikan kepada orang muda. Sementara pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menghasilkan nilai-nilai baru yang berhasil menggeser nilai-nilai luhur tradisi dan kearifan lokal yang sebelumnya diakui dan diyakini sebagai pegangan hidup.
Mungkin kita akan bertanya mengapa kita perlu mengadakan Pendidikan Nilai? Apa sumbangan pendidikan nilai bagi perbaikan hidup manusia baru khususnya kaum muda? Orang muda seperti apa yang diharapkan dari pendidikan nilai ini? Hasil Pernas orang muda Katolik di Cibubur tanggal 12-16 November 2005 mengkaji secara lebih mendalam tentang rusaknya keadaban publik dalam hidup bersama: korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan hidup, semakin merosotnya pengalaman akan nilai-nilai kehidupan universal, maka OMK dianggap harus diikutsertakan dalam melakukan sesuatu bagi pembentukan keadaban baru karena disadari dalam diri OMK juga mulai merosot nilai-nilai universal, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang merupakan pegangan hidup OMK sendiri.
3. Apa itu NILAI
Kita ketahui bahwa, nilai merupakan kualitas yang menyebabkan suatu hal disukai, dikehendaki, dihargai, sehingga layak dicari dan diperjuangkan oleh manusia. Nilai sangat berhubungan dengan kebaikan di dalam sesuatu sehingga menimbulkan daya tarik bagi hasrat
dan keinginan. Nilai berkaitan dengan penghendakan yang mendorong manusia untuk melakukan aktivitas. Ia menjadi motor, penggerak yang mendorong manusia untuk menghendaki dan melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, NILAI selalu bertitik tolak dari manusia dan kesadarannya akan dirinya sendiri.
Nilai sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia menjadi pegangan hidup dan prinsip hidup seseorang sehingga mempengaruhi tindakannya. Artinya bahwa nilai dapat dimengerti sebagai norma atau patokan yang selalu mengarahkan manusia kepada perbuatan-perbuatan yang luhur guna memperoleh kebahagiaan di dalam kehidupannya.
Dengan mengetahui dan menyadari betapa pentingnya nilai-nilai yang harus menjadi pegangan kehidupan kita OMK, maka perlu menoleh sejenak, merenungkan dan melihat pengalaman “ADA BERSAMA” baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat dan selanjutnya kita bertanya,”Adakah nilai-nilai itu sudah tergusur dan tergeser akibat perkembangan jaman? Kalau ternyata di kalangan OMK paroki Pukaone mengalami dan merasakan pergeseran nilai-nilai akibat digusur oleh perkembangan jaman, dampak dari globalisasi, maka kita perlu: pertama, membangun daya imajinasi untuk merangkai dan menggambarkan mimpi atau harapan untuk dapat merubah dan memperbaiki nilai-nilai yang sudah tergusur dan tergeser. Kedua, eksplorasi, kita berusaha untuk menjelajahi seluruh kemungkinan yang bisa menggerakkan dan mendukung pencapaian imajinasi. Ketiga, kreatifitas yang terbuka pada ide atau gagasan baru serta berani menanggung resiko untuk memperbaiki segala macam cap negatip yang dibebankan pada diri OMK. Keempat, refleksi, tahap ini kita mengevaluasi diri kita untuk melihat lebih jauh segala sikap dan perbuatan kita yang mungkin sudah sangat jauh mengangkangi nilai-nilai universal, nilai-nilai kearifan lokal dan nilai- nilai sekularisasi khusus dalam hal agama.
4. Keprihatinan NILAI dalam “Ada bersama”
Menanggapi keprihatinan kita semua dan harapan Bapa Wali Gereja/para Uskup dalam hal pendidikan nilai bagi OMK, maka ditemukan nilai-nilai yang mendasar bagi perkembangan orang muda. Pasti masih ada nilai-nilai penting lain yang juga perlu dikembangkan. Pembentukan itu akan lebih efektif jika lingkungan keluarga dan masyarakat berusaha keras untuk menjalankan gerakan habitus baru dalam mewujudkan tatanan nilai yang baru yang perlu dimekarkan dalam kebersamaan.
a) Militansi/daya juang Hidup Beriman
Yang dimaksudkan dengan militansi hidup beriman adalah kegoncangan/keraguan/kegelisahan OMK akan imannya maka perlu diperbaiki dan diperhatikan dengan lebih serius. OMK gelisah mengenai mudahnya orang muda goncang dalam soal iman dan militansi/daya juang orang muda dalam menghayati imannya sangat lemah. Disadari bahwa orang muda kurang menghayati dan memahami imannya dengan baik, dan penghayatan nilai-nilai kristiani sangat rendah, maka orang muda kurang mau terlibat dalam kehidupan menggereja dan tidak berani memberikan kesaksian tentang imannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tidak jarang banyak orang muda sangat gampang ikut arus dan pindah ke agama lain karena dangkalnya penghayatan akan apa yang diimaninya. Untuk itu OMK diharapkan bisa :
· Mengerti dasar-dasar iman Katolik dengan baik.
· Merefleksikan dan menghayati iman dengan baik dan menjadi saksi Kristus.
· Mampu mengekspresikan dan memperjuangkan dalam hidup.
· Memancarkan semangat Kristus dalam hidupnya .
· Tidak mudah menyerah jika dihadapkan pada persoalan hidup yang rumit.
· Iman Katolik : mutiara yang paling berharga menjadi sumbangan yang sangat berharga bagi dunia menuju tujuan akhir kehidupan yaitu keselamatan dan kedamaian.
b) Nilai Cinta
Kenyataan yang dialami OMK sekarang ini sudah mulai muncul sebuah fenomena baru yaitu OMK mulai kehilangan arah dan pemahanan tentang cinta. Hal ini mengakibatkan sebagian besar OMK mengalami krisis cinta yang kian mengancam eksistensi OMK, ditandai dengan merebaknya budaya kematian yang ditandai dengan kekerasan, free sex, narkoba(minum mabuk), perusakan lingkungan.
Maka OMK sangat diharapkan :
· Sadar bahwa Allah menciptakan kita karena cintaNYA.
· Mampu mengungkapkan semangat hidup karena dicintai.
· Mampu mewujudkan cinta melalui kerelaan untuk berbagi.
· Menemukan kembali arah pemahaman tentang cinta ( dari eros ke agape ).
· Menyadari, mengenal dengan utuh diri, lingkungan dan sesama terutama Tuhan serta menyadari sungguh bahwa Tuhan selalu hadir dalam diri karena Dia adalah sumber cinta sejati.
· Senantiasa berpikir, bertindak, berinteraksi dalam semangat cinta baik personal maupun komunal/kelompok sehingga kemuliaan Allah menjadi sungguh nyata dalam kehidupan umat manusia.
· Cinta menghadirkan damai, tentram, adil.
· Cinta membuat OMK sanggup menerima diri dan sesama dengan kelebihan dan kekurangan.
· Cinta memampukan OMK lebih peka terhadap keadaan sekitar.
· Cinta mendorong OMK semakin kreatif dan penuh daya cipta, semangat berjuang yang tinggi serta siap sedia berkorban.
c) Nilai Persaudaraan Sejati
Percakapan tentang persaudaraan sejati masih sebatas sebuah impian di kalangan orang muda. Fakta membuktikan bahwa organisasi OMK sering tidak berjalan bahkan hancur berantakan karena nilai persaudaraan sejati belum sepenuhnya tertanam dalam diri OMK. Kecemburuan, iri hati, egoisme, kebencian, persekongkolan, pemboikotan sering menjamur dalam kebersamaan OMK. Sering terjadi tawuran massa antar kampung yang disponsori oleh orang muda yang berlabelkan Katolik. Dimanakah ciri khas kekatolikan kita?
Maka sangat perlu OMK
· Harus menanamkan nilai persaudaraan sejati dalam kehidupan “ada bersama” dengan yang lain.
· Ada rasa kebersamaan sebagai satu saudara dalam iman akan Kristus.
· Mampu membangun kerja sama dengan siapa saja tanpa ada perbedaan suku, etnis, cantik, ganteng, kurus, gemuk,keriting, air dll.
· Tidak membeda-bedakan dengan siapa dia bergaul.
· Bekerja bersama dan hidup bersama dalam rasa persaudaraan yang berpusat pada semangat Trinitaris, persekutuan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.
· Memiliki sikap terbuka, rendah hati, berbelarasa, empati dan mau menerima siapa saja yang berkehendak baik dalam membangun Kerajaan Allah.
d) Nilai Kehidupan
Hidup adalah anugerah dari Allah dan tetap milik Allah, dan unik. Karena itu disyukuri dengan bertanggung jawab atas kehidupan. Namun kenyataan di kalangan OMK khususnya muncul berbagai persoalan orang muda yang tidak lagi mencintai dirinya dengan mengkonsumsi narkoba(minum mabuk dll), free sex, merusak lingkungan hidup, melakukan aborsi.
Maka diharapkan OMK:
· menyadari dan memahami hidupnya sebagai anugerah yang unik dari Allah.
· Mampu mengungkapkan syukur atas hidup yang dikaruniakan Tuhan.
· Mampu mengungkapkan perhatian terhadap hidupnya, memelihara dan mencintai dirinya dan sesama.
· Hidup adalah suatu pemberian dari Allah sehingga suci adanya. Kesucian hidup ini sudah mengandung kualitasnya. Kualitas hidup dimengerti dalam tiga dimensi, pertama kualitas kebutuhan (kesejahteraan fisik), kedua kualitas keinginan atau aspirasi (subyektif), dan ketiga kualitas nilai-nilai (kebaikan etis, religius, cultural, relasi interpersonal dan cinta).
· Konsep kualitas hidup harus dimengerti secara benar. Pengertian akan kualitas hidup yang salah bisa mendatangkan malapetaka dan bencana karena bisa digunakan sebagai ukuran layak tidaknya seseorang untuk hidup.
· Bagaimanapun semua orang dalam segala dimensi dan fasenya berhak untuk hidup.
e) Nilai Tanggungjawab
Gejala yang muncul dalam kehidupan OMK saat ini adalah sikap cuek, masa bodoh terhadap diri sendiri (misalnya: terlibat dalam narkoba, seks bebas) dan akan apa yang terjadi dalam kehidupan menggereja (misalnya tidak mau terlibat dalam kegiatan bersama di Gereja, Komunitas Basis, atau dalam kelompok OMK sendiri) dan bermasyarakat (misalnya tidak ikut bertanggung jawab atas kerusakan dan kebersihan lingkungan hidup, buang sampa sembarangan tempat), bahkan slogan ”EGP” alias Emang Gue Pikirin, menjadi sesuatu yang biasa, atau bila ada tugas yang membutuhkan tenaga, pikiran ekstra, ada kecenderungan untuk tidak mau berani ambil resiko, dan merasa tidak mampu ketika diberikan tugas alias ”ABCD” Aduh Booh Cuapek Dech. Tampak bahwa sejauh sesuatu itu tidak mengganggu kehidupan pribadinya untuk apa saya peduli. Kebanyakan orang muda mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab dan sulit untuk menyatakan dengan tegas bahwa ini tanggungjawab saya.
Maka dengan nilai tanggung jawab diharapkan :
· OMK memberikan dirinya (waktu, pemikiran dan energi) dalam menerima tugas/peran/kewajiban yang dipercayakan kepada dirinya.
· Dengan nilai tanggungjawab ini, menciptakan karakter OMK yang siap menerima resiko atau konsekuensi dari sikap dan tindakan-tindakan yang diambilnya dalam rangka melaksanakan apa yang menjadi tugas / peran /kewajiban yang dipercayakan kepadanya.
· Berani menerima apa yang diwajibkan dan melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuannya.
·Melakukan tugastugasnya dengan integritas diri yang tinggi. Dengan itu OMK berjuang untuk mengusahakan perubahan yang positif, baik bagi diri sendiri maupun dengan orang lain (Gereja, masyarakat dan lingkungannya).
· Tanggungjawab berkaitan dengan tiga dimensi, pertama : dimensi personal, manusia mempunyai tanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Kedua, dimensi komunal, manusia mempunyai tanggungjawab terhadap sesamanya yang meliputi keluarga, masyarakat, Negara dan lingkungan alam. Ketiga, dimensi teologal manusia mempunyai tanggungjawab terhadap Allah sebagai asal dan tujuan hidup.
Dengan menghidupi nilai- nilai ini dengan sungguh dan menjadi pegangan hidup kita maka pada akhirnya kita mampu membangun sebuah keadaban baru yang bercirikan militansi dalam iman, cinta, tanggung jawab, mencintai kehidupan dan pada akhirnya menciptakan persaudaraan sejati di antara kita. Inilah tanggung jawab kita bersama, dan “Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada hari ini” demikian kata Abraham Lincoln. Sebagai OMK, kita mempunyai tugas dan tanggungjawab tentang hal ini.
5. Penutup
Dipundak orang muda diserahi tugas untuk mengembalikan keadaban publik dengan meluruskan tatanan nilai yang sudah mulai bengkok. Yakinlah bahwa kamu pasti bisa untuk merubah keadaan ini. Kalau bukan kamu siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi.
Rm. Benyamin Apelabi,Pr ( Team Pendidikan Nilai Keuskupan Larantuka )
Powered By Blogger

Anak Ganteng Punk Foto

Anak Ganteng Punk Foto
x X x

my Acoouunntt

Open Panel

Blogroll